Jumat, 21 Mei 2010

Sosialisme Libertarian

Sosialisme Libertarian adalah kelompok filosofi politik yang memiliki tujuan menciptakan masyarakat tanpa hirarki politik, ekonomi dan sosial --sebuah masyarakat di mana segala kekerasan atau institusi koersif akan dilenyapkan, dan pada tempatnya setiap orang akan mendapatkan akses bebas dan setara terhadap alat-alat informasi dan produksi, atau masyarakat di mana hirarki dan institusi koersif dikurangi sampai sekecil-kecilnya. [1]
Kesetaraan dan kebebasan ini dapat dicapai melalui penghapusan institusi otoritarian dan hak milik pribadi[2], agar kontrol langsung terhadap alat-alat produksi dan sumber daya dapat diraih oleh kelas pekerja dan masyarakat secara keseluruhan. Sosialisme libertarian juga memiliki kecenderungan pemikiran bahwa otoritas yang tidak memiliki legitimasi untuk diidentifikasi, dikritik kemudian dirombak pada segala aspek kehidupan sosial. Sosialis libertarian kemudian meyakini "praktik kekuasaan dalam segala bentuk terinstitusional --baik ekonomi, politik, religius maupun seksual-- akan menghancurkan pemegang kekuasaan maupun mereka yang berada di bawah ketika kekuasaan diberlakukan." [3]
Jika kebanyakan aliran sosialisme mempercayai peran negara dan partai politik untuk mencapai kemerdekaan dan keadilan sosial, sosialis libertarian menyandarkan harapan mereka pada serikat pekerja, majelis pekerja, munisipal-munisipal, dewan warga negara, serta aksi-aksi lain yang bersifat nonbirokratis dan terdesentralisasi. [4]
Filsafat politik yang secara umum dideskripsikan sebagai sosialis libertarian termasuk: banyak varian dari anarkisme (termasuk komunisme anarkis, kolektivisme anarkis, anarko-sindikalisme[5], dan beberapa bentuk anarkisme individualis[6], mutualisme, ekologi sosial[7], dan komunisme majelis[8] (atau bahkan komunisme itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Karl Marx dan Lenin pada tahap selanjutnya dalam perkembangan sosialisme). Istilah komunisme anarkis dan komunisme libertarian tidak boleh dianggap sinonim untuk sosialisme libertarian. Beberapa cendekiawan menggunakan sosialisme libertarian sebagai sinonim dari anarkisme.[9]


Pengertian umum

Noam Chomsky, salah seorang akademikus yang mengklaim sebagai seorang sosialis libertarian.
Orang pertama yang mendeskripsikan dirinya sebagai libertarian adalah Joseph Déjacque, seorang komunis anarkis awal Perancis. Kata tersebut berasal dari bahasa Perancis libertaire, dan digunakan untuk mengelak dari cekal Perancis terhadap publikasi anarkis. Dalam konteks gerakan sosialis Eropa, libertarian telah digunakan secara umum untuk mengidentifikasi mereka yang menentang sosialisme negara, seperti Mikhail Bakunin. Di Amerika Serikat, gerakan tersebut lebih umum disebut libertarianisme yang menginduk pada filosofi kapitalis; istilah sosialisme libertarian maka dari itu mengkritik banyak orang Amerika sebagai inkonsisten. Bagaimanapun juga, penyangkutpautan sosialisme terhadap libertarianisme berada dalam masa kapitalisme, dan banyak anti-otoritarian masih menyebutnya sebagai asosiasi keliru kapitalisme terhadap libertarianisme di Amerika Serikat. Sebagaimana Noam Chomsky katakan, "seorang libertarian yang konsisten harus menentang kepemilikan pribadi dalam hal produksi, dan perbudakan berupah sebagai komponen sistem ini sebagai tidak selaras dengan prinsip bahwa buruh harus terbebas dan berada di bawah kontrol pemroduksi".
Sosialisme libertarian adalah ideologi dengan interpretasi beragam meskipun keumuman dapat ditemukan dalam banyak inkarnasinya. Proponennya mengadvokasi sistem distribusi berorientasi buruh yang secara radikal terpisah dari ekonomi kapitalis (sosialis). Mereka mengemukakan bahwa sistem ekonomi ini bisa dipraktekkan dengan cara yang berusaha memaksimalkan kebebasan individual dan memperkecil konsentrasi kekuatan atau otoritas (libertarianisme). Sosialis libertarian menunjukkan penolakan yang kuat terhadap aksi dengan kekerasan yang seringkali menyebabkan mereka untuk menolak negara dan memeluk anarkisme. Usaha adheren untuk mencapainya melalui desentralisasi kekuatan politik dan ekonomi, biasanya dengan melibatkan penyosialisasian properti dan perusahaan skala besar. Sosialisme libertarian menolak legitimasi kebanyakan bentuk properti privat yang secara signifikan bernilai ekonomi karena mereka menganggap relasi properti kapitalis sebagai bentuk dominasi yang bertentangan dengan kebebasan individual.
Dalam sebuah bab yang mengulas ulang sejarah sosialisme libertarian, ekonomikus radikal Robin Hahnel menghubungkan jauhnya periode di mana sosialisme libertarian memiliki pengaruh paling besarnya pada akhir abad ke-19 hingga empat dekade pertama abad ke-20.
"Di awal abad ke-20, sosialisme libertarian merupakan kekuatan besar sebagaimana demokrasi sosial dan komunisme. Libertarian Internasional -- yang dibentuk di Congress of Saint Imier beberapa hari setelah pecahnya kaum Marxis dan libertarian pada kongres Internasional Sosialis yang dilaksanakan di The Hague pada 1872 -- bersaing secara sukses dengan demokrat sosial dan komunis untuk kesetiaan aktivis antikapitalis, revolusioner, buruh, serikat-serikat pekerja, dan partai-partai politik untuk lebih dari lima puluh tahun. Sosialis libertarian memegang peran yang besar dalam Revolusi Rusia pada 1905 dan 1917. Sosialis libertarian memainkan peran dominan dalam Revolusi Meksiko pada 1911. Dua puluh tahun setelah Perang Dunia ke-I berakhir, sosialis libertarian masih cukup kuat untuk menancapkan revolusi paling berhasil menentang kapitalisme yang pernah ada dalam masa ekonomi industri, yaitu pada revolusi sosial yang berlangsung di seluruh Republik Spanyol pada 1936 dan 1937.

Anti-kapitalisme
Anti-kapitalisme
Sosialis libertarian menyatakan bahwa ketika kekuasaan dipraktekkan, seperti dicontohkan dengan dominasi ekonomi, sosial atau fisik seseorang terhadap yang lainnya, tanggungjawab selalu berada di pihak otoritarian untuk membuktikan bahwa tindakan mereka dapat dilegitimasi ketika apa yang mereka lakukan berakibat mempersempit cakupan kebebasan manusia. Contoh tipikal dari praktek yang sah dalam penggunaan kuasa adalah menggunakan kekuatan fisik untuk menyelamatkan seseorang agar tidak terluka akibat kendaraan yang lewat, atau pertahanan diri. Sosialis libertarian biasanya menentang struktur otoritas yang kaku dan berstrata, apakah itu otoritas politik, ekonomi, maupun sosial.
Sosialis libertarian percaya bahwa semua ikatan sosial harus dikembangkan oleh individu-individu yang memiliki besar kekuatan tawar-menawar yang setara, dan bahwa akumulasi kekuatan ekonomi di tangan segelintir orang dan sentralisasi kekuatan politik sama-sama mengurangi kekuatan tawar-menawar --demikian juga dengan kebebasan individu yang lain di masyarakat. Di pihak lain, prinsip kapitalis (dan libertarian kanan) mengkonsentrasikan kekuatan ekonomi di tangan mereka yang memiliki modal yang paling banyak. Sosialisme libertarian bertujuan untuk mendistribusikan kekuasaan, demikian juga dengan kebebasan, secara lebih adil di antara anggota masyarakat. Perbedaan kunci antara sosialisme libertarian dan libertarianisme sayap kanan adalah kelompok yang pertama secara umum percaya kemerdekaan adalah secara esensial kebebasan untuk memilih, atau kebebasan untuk menyadari diri sendiri. Hal ini sesekali dikarakterisasikan sebagai keinginan untuk memaksimalkan "kreativitas bebas" di dalam masyarakat dibandingkan "bisnis bebas" (free enterprise).
Sosialis libertarian percaya jika kebebasan dihargai maka masyarakat harus mengusahakan terbentuknya sebuah sistem di mana individu-individu memiliki kuasa untuk memutuskan isu-isu ekonomi bersama-sama dengan isu-isu politik. Sosialis libertarian berusaha untuk menggantikan otoritas yang tak direstui dengan demokrasi langsung, federasi sukarela, dan otonomi populer dalam segala aspek kehidupan, termasuk komunitas-komunitas fisik dan usaha-usaha ekonomi.
Banyak sosialis libertarian berargumen bahwa asosiasi-asosiasi sukarela berskala besar harus mengatur manufaktur industrial, sementara buruh mendapatkan hak atas produk individual dari hasil kerja mereka. Dengan begitu, mereka melihat adanya perbedaan antara konsep "hak milik privat" dan "kepemilikan pribadi". Di mana "hak milik privat" memperbolehkan kontrol eksklusif individual atas suatu hal baik ketika hal tersebut sedang digunakan atau tidak, tanpa memperhatikan kapasitas produktifnya, "kepemilikan" tidak memberikan hak atas hal yang tidak sedang digunakan. Titel hak milik memberikan hak kepada pemilik untuk menyimpan barang yang dimiliki dari orang lain, atau jika mereka menghendaki, mereka dapat memberlakukan keharusan membayar jika orang lain ingin menggunakannya. "Kepemilikan", di lain pihak, tidak sejalan dengan bentuk "eksploitasi" atau "penghisapan" semacam ini.


Oposisi terhadap negara
Anti-statisme
Sosialis libertarian menganggap konsentrasi kekuasaan sebagai sumber penindasan, dan membuat banyak sosialis libertarian untuk menentang negara.
Sebagai pengganti negara, sosialis libertarian berusaha untuk mengatur diri mereka sendiri menjadi asosiasi-asosiasi sukarela (biasanya kolektif, komune, koperasi, atau sindikat) yang menggunakan demokrasi langsung atau konsensus untuk proses pembuatan keputusan di antara mereka. Beberapa sosialis libertarian mengusung pengombinasian institusi-institusi ini menggunakan delegasi yang dapat di-recall secara rotatif menuju federasi yang lebih tinggi. Anarkisme Spanyol adalah contoh utama dari praktek federasi semacam itu. Contoh kontemporer dari model pembuatan keputusan dan organisasi sosialis libertarian praktis termasuk beberapa gerakan anti-kapitalis dan anti-globalisasi termasuk: Dewan Pemerintah yang Baik Zapatista dan jaringan Indymedia Global (yang mencakup 45 negara di 6 benua). Ada juga beberapa contoh masyarakat-masyarakat adat di seluruh dunia yang sistem politik dan ekonominya bisa secara akurat disebut sebagai anarkis atau sosialis libertarian, yang masing-masing unik dan dikemas secara unik dengan budaya di mana Ia lahir. Bagi libertarian, keberagaman praktek tersebut berada dalam kerangka prinsip umum adalah bukti keutamaan dari prinsip-prinsip tersebut dan dari fleksibilitas dan kekuatan.
Berseberangan dengan pendapat umum, sosialisme libertarian berlangsung bukan sebagai gerakan utopian, cenderung untuk menghindari perkiraan atau analisis teoritis yang dangkal mengenai akan atau harus seperti apa masyarakat masa depan itu. Tradisi budaya yang ada adalah bahwa keputusan tidak bisa dilakukan saat ini juga, dan harus dilakukan melalui serangkaian perjuangan dan eksperimen, maka solusi terbaik dapat tiba secara demokratis dan secara organis, juga dengan menempatkan arah perjuangan pada contoh historis yang telah ada. Banyak pendukung yang seringkali menyarankan fokus eksplorasi atas predeterminasi adalah satu dari kekuatan besar mereka. Mereka menjelaskan bahwa keberhasilan metode saintifik datang dari ketaatan pada eksplorasi rasional yang terbuka, bukan pada kesimpulannya, atau dogma dan prediksi yang telah ditentukan (yang mereka tuduh banyak dilakuan teoritikus Marxis).
Meskipun banyak kritikus yang menyatakan mereka menghindari pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab, kaum sosialis libertarian percaya bahwa pendekatan metodologis pada eksplorasi adalah cara terbaik untuk mencapai tujuan sosial mereka. Bagi mereka, pendekatan dogmatik pada organisasi sosial hanya akan berakhir dengan kegagalan; dan dengan demikian menolak gagasan "Sejarah" yang linear dan tak terelakkan. Anarkis ternama Rudolf Rocker pernah menyatakan, "Aku seorang anarkis bukan karena Aku mempercayai anarkisme adalah tujuan akhir, tapi karena tak ada yang namanya tujuan akhir" (The London Years, 1956).
Karena sosialisme libertarian mendorong eksplorasi dan merangkul keberagaman ide daripada membentuk sebuah gerakan yang kompak, muncullah kontroversi tak terelakkan mengenai para individual yang mengaku dirinya sebagai sosialis libertarian namun tidak setuju dengan beberapa prinsip inti sosialisme libertarian. Contohnya adalah ketika Peter Hain menginterpretasi sosialisme libertarian memilih desentralisasi kekuasaan radikal tanpa terus menuju penghapusan negara secara menyeluruh dan sosialis libertarian Noam Chomsky yang mendukung pembongkaran segala bentuk kekuatan ekonomi dan politik yang tak sah, namun juga menekankan bahwa intervensi negara harus didukung sebagai perlindungan temporer sementara struktur opresif masih tetap ada.
Banyak pendukung yang diketahui turut menentang keberadaan negara maupun pemerintah dan menolak untuk berpartisipasi dalam institusi negara koersif. Dan tentu, di masa lalu banyak yang menolak untuk disumpah dalam pengadilan atau untuk berpartisipasi dalam pengadilan, bahkan ketika mereka menghadapi ancaman pemenjaraan atau deportasi

Kapitalisme

Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.



Perspektif filosofi kapitalisme
Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitalis sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin melenyapkannya, seperti komunisme.


kaum klasik kapitalis
Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah memunculkan ketimpangan ekonomi. Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat. Beberapa ahli ini antara lain:


Adam Smith
Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.

Kapitalisme

Kapitalisme atau Kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankan komersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu.


Perspektif filosofi kapitalisme
Kapitalisme adalah salah satu pola pandang manusia dalam segala kegiatan ekonominya. Perkembangannya tidak selalu bergerak ke arah positif seperti yang dibayangkan banyak orang, tetapi naik turun. Kritik keberadaan kapitalis sebagai suatu bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah adalah salah satu faktor yang menyebabkan aliran ini banyak dikritik. Akan tetapi, bukan hanya kritik saja yang mengancam kapitalisme, melainkan juga ideologi lain yang ingin melenyapkannya, seperti komunisme.

kaum klasik kapitalis
Pemerintah mendominasi bidang perdagangan selama berabad-abad namun kemudian malah memunculkan ketimpangan ekonomi. Para pemikir ini mulai beranggapan bahwa para borjuis, yang pada era sebelumnya mulai memegang peranan penting dalam ekonomi perdagangan yang didominasi negara atau lebih dikenal dengan merkantilisme, seharusnya mulai melakukan perdagangan dan produksi guna menunjang pola kehidupan masyarakat. Beberapa ahli ini antara lain:

Adam Smith
Adam Smith adalah tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi. Gerakan produksi haruslah bergerak sesuai konsep MCM (Modal-Comodity-Money, modal-komoditas-uang), yang menjadi suatu hal yang tidak akan berhenti karena uang akan beralih menjadi modal lagi dan akan berputar lagi bila diinvestasikan. Adam Smith memandang bahwa ada sebuah kekuatan tersembunyi yang akan mengatur pasar (invisible hand), maka pasar harus memiliki laissez-faire atau kebebasan dari intervensi pemerintah. Pemerintah hanya bertugas sebagai pengawas dari semua pekerjaan yang dilakukan oleh rakyatnya.
Hari buruh di Indonesia

Jurnalis Juga Buruh, 1 Mei 2007 di Jakarta
Indonesia pada tahun 1920 juga mulai memperingati hari Buruh tanggal 1 Mei ini.
Ibarruri Aidit (putri sulung D.N. Aidit) sewaktu kecil bersama ibunya pernah menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Uni Sovyet, sesudah dewasa menghadiri pula peringatan Hari Buruh Internasional 1 Mei 1970 di Lapangan Tian An Men RRC pada peringatan tersebut menurut dia hadir juga Mao Zedong, Pangeran Sihanouk dengan istrinya Ratu Monique, Perdana Menteri Kamboja Pennut, Lin Biao (orang kedua Partai Komunis Tiongkok) dan pemimpin Partai Komunis Birma Thaksin B Tan Tein.[2]
Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia, dan sejak itu, 1 Mei bukan lagi merupakan hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia.
Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif, karena May Day selalu dikonotasikan dengan ideologi komunis. Konotasi ini jelas tidak pas, karena mayoritas negara-negara di dunia ini (yang sebagian besar menganut ideologi nonkomunis, bahkan juga yang menganut prinsip antikomunis), menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Labour Day dan menjadikannya sebagai hari libur nasional.
Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.
Kekhawatiran bahwa gerakan massa buruh yang dimobilisasi setiap tanggal 1 Mei membuahkan kerusuhan, ternyata tidak pernah terbukti. Sejak peringatan May Day tahun 1999 hingga 2006 tidak pernah ada tindakan destruktif yang dilakukan oleh gerakan massa buruh yang masuk kategori "membahayakan ketertiban umum". Yang terjadi malahan tindakan represif aparat keamanan terhadap kaum buruh, karena mereka masih berpedoman pada paradigma lama yang menganggap peringatan May Day adalah subversif dan didalangi gerakan komunis.
[sunting] 2006
Aksi May Day 2006 terjadi di berbagai kota di Indonesia, seperti di Jakarta, Lampung, Makassar, Malang, Surabaya, Medan, Denpasar, Bandung, Semarang, Samarinda, Manado, dan Batam.
Di Jakarta unjuk rasa puluhan ribu buruh terkonsentrasi di beberapa titik seperti Bundaran HI dan Parkir Timur Senayan, dengan sasaran utama adalah Gedung MPR/DPR di Jalan Gatot Subroto dan Istana Negara atau Istana Kepresidenan. Selain itu, lebih dari 2.000 buruh juga beraksi di Kantor Wali Kota Jakarta Utara. Buruh yang tergabung dalam aksi di Jakarta datang dari sejumlah kawasan industri di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) yang tergabung dalam berbagai serikat atau organisasi buruh. Mereka menolak revisi Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang banyak merugikan kalangan buruh.[3]
[sunting] 2007

Pawai Hari Buruh 1 Mei 2007 di Jakarta
Di Jakarta, ribuan buruh, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan masyarakat turun ke jalan. Berbagai titik di Jakarta dipenuhi para pengunjuk rasa, seperti Kawasan Istana Merdeka, Gedung MPR-DPR-DPD, Gedung Balai Kota dan DPRD DKI, Gedung Depnaker dan Disnaker DKI, serta Bundaran Hotel Indonesia.
Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa dan buruh dari berbagai elemen memenuhi Kota Yogyakarta. Simpang empat Tugu Yogya dijadikan titik awal pergerakan. Buruh dan mahasiswa berangkat dari titik simpul Tugu Yogya menuju depan Kantor Pos Yogyakarta. Di Solo, aksi dimulai dari Perempatan Panggung yang dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Bundaran Gladag sejauh 3 km untuk menggelar orasi lalu berbelok menuju Balaikota Surakarta yang terletak beberapa ratus meter dari Gladag. Aksi serupa juga digelar oleh dua ratusan buruh di Sukoharjo. Massa aksi tersebut mendatangi Kantor Bupati dan Kantor DPRD Sukoharjo. Di Bandung, para buruh melakukan aksi di Gedung Sate dan bergerak menuju Polda Jawa Barat dan kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinaskertrans) Jawa Barat. Di Serang, ruas jalan menuju Pandeglang, Banten, lumpuh sejak pukul 10.00 WIB. Sekitar 10.000 buruh yang tumplek di depan Gedung DPRD Banten memblokir Jalan Palima. Di Semarang, ribuan buruh berunjuk rasa secara bergelombang sejak pukul 10.00 WIB. Mengambil start di depan Masjid Baiturrahman di Kawasan Simpang Lima, Kampus Undip Pleburan, dan Bundaran Air Mancur di Jalan Pahlawan, lalu menuju gedung DPRD Jawa Tengah. Sekitar 2 ribu buruh di kota Makassar mengawali aksinya dengan berkumpul di simpang Tol Reformasi. Dari tempat tersebut, mereka kemudian berjalan kaki menuju kantor Gubernur Sulsel Jl Urip Sumoharjo. Di kota Palembang, aksi buruh dipusatkan di lapangan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera). Di Sidoarjo, ratusan buruh yang melakukan aksi di Gedung DPRD Sidoarjo, Jawa Timur. Ribuan buruh di Pekalongan melakukan demo mengelilingi Kota Pekalongan. Aksi dimulai dari Alun-alun Pekauman Kota Pekalongan, melewati jalur pantura di Jalan Hayam Wuruk, dan berakhir di halaman Gedung DPRD Kota Pekalongan. Longmarch dilakukan sepanjang sekitar enam kilometer. Di Medan, sekitar 5 ribu buruh mendatangi DPRD Sumut dan Pengadilan Negeri Medan.

Pawai Hari Buruh 1 Mei 2008 di Jakarta
[sunting] 2008
Sekitar 20 ribu buruh melakukan aksi longmarch menuju Istana Negara pada peringatan May Day 2008 di Jakarta. Mereka berkumpul sejak pukul 10 pagi di Bundaran Hotel Indonesia.
Sementara itu 187 aktivis Jaringan Anti Otoritarian dihadang dan ditangkap dengan tindakan represif oleh personil Polres Jakarta Selatan seusai demonstrasi di depan Wisma Bakrie, saat hendak bergabung menuju bundaran HI [4]. Di Depok, 5 truk rombongan buruh yang hendak menuju Jakarta ditahan personel Polres Depok. Di Medan, polisi melarang aksi demonstrasi dengan alasan hari raya Kenaikan Isa Almasih. Aksi buruh di Yogyakarta juga dihadang Forum Anti Komunis Indonesia. [5]
Aksi ini dilakukan oleh pelbagai organisasi buruh yang tergabung Aliansi Buruh Menggugat dan Front Perjuangan Rakyat, serta diikuti berbagai serikat buruh dan organisasi lain, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Buruh Putri Indonesia, Kesatuan Alinasi Serikat Buruh Independen (KASBI), Serikat Pekerja Carrefour Indonesia, Serikat Buruh Jabotabek (SBJ), komunitas waria, organ-organ mahasiswa dan lain sebagainya. [6]

Pawai Hari Buruh 2009 di Jakarta
[sunting] 2009
Belasan ribu buruh, aktivis dan mahasiswa dari berbagai elemen dan organisasi memperingati Hari Buruh Sedunia dengan melakukan aksi longmarch dari Bundaran HI menuju Istana Negara, Jakarta. Aksi ini tergabung dalam dua organisasi payung, Front Perjuangan Rakyat (FPR) dan Aliansi Buruh Menggugat (ABM). Ribuan buruh yang tergabung dalam ABM, tertahan dan dihadang oleh ratusan aparat kepolisian sekitar 500 meter dari Istana. [7]
[sunting] 2010
Bertepatan dengan Hari Buruh Internasional, ribuan pengunjuk rasa melakukan unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Dari Bundaran HI, mereka kemudian bergerak ke depan Istana Negara.[8]. Mereka menuntut akan jaminan sosial bagi buruh. Kalangan buruh menganggap penerapan jaminan sosial saat ini masih diskriminatif, terbatas, dan berorientasi keuntungan. [9]
Di depan Istana, sempat terjadi kericuhan yang berlangsung sekitar 15 menit pada pukul 14.00 WIB. Petugas kepolisian mengamankan dua orang pengunjuk rasa untuk dimintai keterangan. Menurut Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang, kedua demonstran tersebut berasal dari salah satu lembaga antikorupsi, KAPAK (Komite Aksi Pemuda Anti Korupsi). Setelah insiden itu, secara umum kondisi aksi unjuk rasa berjalan kondusif kembali hingga selesainya aksi pada pukul 16.00 WI

Sejarah Hari Buruh

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Ada dua orang yang dianggap telah menyumbangkan gagasan untuk menghormati para pekerja, Peter McGuire dan Matthew Maguire, seorang pekerja mesin dari Paterson, New Jersey. Pada tahun 1872, McGuire dan 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk menuntut mengurangan jam kerja. McGuire lalu melanjutkan dengan berbicara dengan para pekerja and para pengangguran, melobi pemerintah kota untuk menyediakan pekerjaan dan uang lembur. McGuire menjadi terkenal dengan sebutan "pengganggu ketenangan masyarakat".

Pada tahun 1881, McGuire pindah ke St. Louis, Missouri dan memulai untuk mengorganisasi para tukang kayu. Akhirnya didirikanlah sebuah persatuan yang terdiri atas tukang kayu di Chicago, dengan McGuire sebagai Sekretaris Umum dari "United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America". Ide untuk mengorganisasikan pekerja menurut bidang keahlian mereka kemudian merebak ke seluruh negara. McGuire dan para pekerja di kota-kota lain merencanakan hari libur untuk Para pekerja di setiap Senin Pertama Bulan September di antara Hari Kemerdekaan dan hari Pengucapan Syukur.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Dalam tahun-tahun berikutnya, gagasan ini menyebar dan semua negara bagian merayakannya.

Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS: Sebagaimana batasan-batasan ini mewakili tuntutan umum kelas pekerja Amerika Serikat, maka kongres merubah tuntutan ini menjadi landasan umum kelas pekerja seluruh dunia.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions untuk, selain memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut. Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872 [1], menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.